Tugas 9 faktor-faktor yang mempengaruhi belajar di kelas
FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI BELAJAR DI KELAS
A.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR
Saat proses belajar dapat terjadi berbagai hambatan,
itulah salah satu bunyi dari prinsip pembelajaran. Untuk dapat mengetahui dan
mengatasi hambatan- hambatan maka kita harus berfikit mengenai faktor- faktor
apa saja yang dapat mempengaruhi suatu proses belajar dan pembelajaran. Setelah
mengetahui berbagai prinsip pembelajaran, kita dapat menganalisa lebih jauh
mengenai factor- faktor yang dapat berpengaruh pada saat proses belajar. Di
prinsip-prinsip pembelajaran kita mengetahui bahwa belajar membutuhkan proses,
interaksi, motivasi, lingkungan, dll. Kali ini kita akan bahas dalam konteks
faktor-faktor yang dapat berpengaruh saat proses belajar dan pembelajaran.
Faktor-faktor tersebut adalah:
1. Faktor Individu/Internal
a. Keadaan
jasmani.
Apabila seorang individu berada dalam keadaan yang
kurang sehat maka proses belajar akan sedikit terhambat. Berbeda halnya dengan
seseorang yang dalam keadaan sehat akan dapat melakukan proses pembelajaran
dengan lebih efektif. Maka dari itu, guru yang mengetahui ada sisiwanya yang
sakit, sebaiknya menyuruh sisiwanya untuk beristirahat.
b. Keadaan fungsi jasmani.
Ini berkaitan dengan fungsi alat tubuh seseorang,
seperti pengelihatan, pendengaran, lisan, dll yang keberadaannya sangat
berpegnaruh saat proses
c. Keadaan psikologis.
Ini sangat erat kaitannya dengan
beberapa hal dibawah ini:
1)
IQ atau kecerdasan siswa.
kecerdasan bawaan yang dimiliki oleh seseorang. IQ
biasanya mengindikasikan kecepatan menghitung dan pemahaman materi yang
diajarkan.
2)
Motivasi Belajar siswa.
Motivasi akan sangat berpengaruh bagi setiap siswa,
karena motivasi salah satu fungsinya adalah mendorong atau menggerakkan jiwa
kita sehingga mau melakukan sesuatu.
3)
Minat dan Bakat.
Hal yang disenangi akan mendorong siswa untuk belajar.
Anak terlahir dengan anugrah kemampuan yang berbeda-beda. Maka dari itu, tugas
guru adalah membantu siswa mengembangkan kemampuan mereka. Siswa yang mempunyai
kemampuan menggambar sebaiknya diberi stimulus lebih dalam menggambar. Dan juga
siswa yang mempunyai kemampuan menggambar sebaiknya tidak diberi pelajaran
menyanyi lebih banyak. Maka dari itu, sebaiknya sekolah memberikan
ekstrakurikuler sebagai wadah pengembangan bakat minat siswa.
2.
Faktor Eksternal
Lingkungan, meliputi:
a. Lingkungan sekolah
1) Lingkungan Fisik: Sekolah yang baik seharusnya
dijauhkan dari kebisingan dan polusi.
2) Lingkungan sosial: Tata letak sekolah juga harus
diperhatikan. Sebaiknya tidak didepan pasar, mall, tempat karaoke, atau tempat
hiburan yang lain.
b.
Lingkungan sosial masyarakat. Kondisi lingkungan
masyarakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa
c.
Lingkungan keluarga. Lingkungan ini sangat memengaruhi
kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga
(letak rumah), pengelolaan keluarga, semuannya dapat memberi dampak terhadap
aktivitas belajar siswa.
B.
Mengatur Kondisi Kelas Dan Iklim
Belajar Siswa
Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar, dan karena itu, akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. ltulah sebabnya, mengapa setiap anak perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukannya.
Pengelolaan kelas yang baik, dapat dilakukan dengan 6 cara, yaitu sebagai berikut :
1. Penciptaan lingkungan fisik kelas yang kondusif
2. Penataan ruang belajar sebagai sentra belajar
3. Penciptaan atmosfir belajar yang kondusif
4. Penetapan strategi pembelajaran dan
5. Pemanfaatan media dan sumber belajar
6. Penilaian hasil belajar.
Design ruang kelas yang baik dimaksudkan untuk menanamkan, menumbuhkan, dan memperkuat rasa keberagamaan dan perilaku-perilaku spritual siswa. Dengan ruang kelas yang baik, para siswa dapat berkomunikasi secara bebas, saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing.
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menata lingkungan fisik kelas menurut Loisell ( Winataputra, 2003: 22 ) yaitu:
1. Visibility (KeleluasaanPandangan)
Visibility artinya penempatan dan penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu pandangan siswa, sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru, benda atau kegiatan yang sedang berlangsung. Begitu pula guru harus dapat memandang semua siswa kegiatan pembelajaran.
2. Accesibility (mudah dicapai)
Penataan ruang harus dapat memudahkan siswa untuk meraih atau mengambil barang-barang yang dibutuhkan selama proses pembelajaran. Selain itu jarak antar tempat duduk harus cukup untuk dilalui oleh siswa sehingga siswa dapat bergerak dengan mudah dan tidak mengganggu siswa lain yang sedang bekerja.
3. Fleksibilitas (Keluwesan)
Barang-barang di dalam kelas hendaknya mudah ditata dan dipindahkan yang disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran. Seperti penataan tempat duduk yang perlu dirubah jika proses pembelajaran menggunakan metode diskusi, dan kerja kelompok.
4. Kenyamanan
Kenyamanan disini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.
5. Keindahan
Prinsip keindahan ini berkenaan dengan usaha guru menata ruang kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan belajar. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan dapat berengaruh positif pada sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.
Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk bekelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu dan memantau tingkah laku siswa dalam belajar. Dalam pengaturan ruang belajar, hal-hal berikut perlu diperhatikan yaitu:
1. Ukuran bentuk kelas
2. Bentuk serta ukuran bangku dan meja
3. Jumlah siswa dalam kelas
4. Jumlah siswa dalam setiap kelompok
5. Jumlah kelompok dalam kelas
6. Komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa yang pandai dan kurang pandai, pria dan wanita).
Hal yang tidak boleh kita lupakan bahwa dalam penataan tempat duduk siswa tersebut guru tidak hanya menyesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan saja. Tetapi seorang guru perlu mempertimbangkan karakteristik individu siswa, baik dilihat dari aspek kecerdasan, psikologis, dan biologis siswa itu sendiri. Hal ini penting karena guru perlu menyusun atau menata tempat duduk yang dapat memberikan suasana yang nyaman bagi para siswa
1. Pengaturan meja-kursi
Susunan meja-kursi hendaknya memungkinkan siswa-siswa dapat saling berinteraksi dan memberi keluasaan untuk terjadinya mobilitas pergerakan untuk melakukan aktivitas belajar. Meja-kursi juga hendaknya dapat digerakkan, dipindahkan, dan disusun secara fleksibel. Beri keleluasaan siswa mengatur sendiri atau memilih meja-kursinya masing-masing.
2. Pemajangan gambar dan warna
Pemajangan gambar dan pemilihan warna perlu mempertimbangkan saran-saran berikut.
a. Siswa perlu dilibatkan dalam pengadaan dan penataan pajangan-pajangan yang dibutuhkan dalam kelas. Siswa, misalnya, dapat diminta membuat gambar, poster, motto, puisi.
b. Guna menghindari kejenuhan terhadap gambar dan isi poster afirmasi yang sama, guru perlu secara priodik mengganti gambar-gambar atau poster-poster tersebut.
c. Guna mengoptimalkan penataan ruang, maka hasil-hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas. karya-karya terpilih siswa yang dipajang dapat berfungsi sebagai reward dan praise yang dapat memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain.
3. Ventilasi dan pengaturan cahaya
Suhu, ventilasi dan penerangan (kendati pun guru sulit mengatur karena sudah ada) adalah aset penting untuk terciptamya suasana belajar yang nyaman. Oleh karena itu, ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa.
4. Pengaturan penyimpanan barang-barang
Barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai kalau segera diperlukan dan akan dipergunakan bagi kepentingan belajar. Barang-barang yang karena nilai praktisnya tinggi dan dapat disimpan di ruang kelas seperti buku pelajaran, pedoman kurikulum, kartu pribadi dan sebagainya, hendaknya ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu gerak kegiatan siswa.
Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar, dan karena itu, akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. ltulah sebabnya, mengapa setiap anak perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukannya.
Pengelolaan kelas yang baik, dapat dilakukan dengan 6 cara, yaitu sebagai berikut :
1. Penciptaan lingkungan fisik kelas yang kondusif
2. Penataan ruang belajar sebagai sentra belajar
3. Penciptaan atmosfir belajar yang kondusif
4. Penetapan strategi pembelajaran dan
5. Pemanfaatan media dan sumber belajar
6. Penilaian hasil belajar.
Design ruang kelas yang baik dimaksudkan untuk menanamkan, menumbuhkan, dan memperkuat rasa keberagamaan dan perilaku-perilaku spritual siswa. Dengan ruang kelas yang baik, para siswa dapat berkomunikasi secara bebas, saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing.
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menata lingkungan fisik kelas menurut Loisell ( Winataputra, 2003: 22 ) yaitu:
1. Visibility (KeleluasaanPandangan)
Visibility artinya penempatan dan penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu pandangan siswa, sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru, benda atau kegiatan yang sedang berlangsung. Begitu pula guru harus dapat memandang semua siswa kegiatan pembelajaran.
2. Accesibility (mudah dicapai)
Penataan ruang harus dapat memudahkan siswa untuk meraih atau mengambil barang-barang yang dibutuhkan selama proses pembelajaran. Selain itu jarak antar tempat duduk harus cukup untuk dilalui oleh siswa sehingga siswa dapat bergerak dengan mudah dan tidak mengganggu siswa lain yang sedang bekerja.
3. Fleksibilitas (Keluwesan)
Barang-barang di dalam kelas hendaknya mudah ditata dan dipindahkan yang disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran. Seperti penataan tempat duduk yang perlu dirubah jika proses pembelajaran menggunakan metode diskusi, dan kerja kelompok.
4. Kenyamanan
Kenyamanan disini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.
5. Keindahan
Prinsip keindahan ini berkenaan dengan usaha guru menata ruang kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan belajar. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan dapat berengaruh positif pada sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.
Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk bekelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu dan memantau tingkah laku siswa dalam belajar. Dalam pengaturan ruang belajar, hal-hal berikut perlu diperhatikan yaitu:
1. Ukuran bentuk kelas
2. Bentuk serta ukuran bangku dan meja
3. Jumlah siswa dalam kelas
4. Jumlah siswa dalam setiap kelompok
5. Jumlah kelompok dalam kelas
6. Komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa yang pandai dan kurang pandai, pria dan wanita).
Hal yang tidak boleh kita lupakan bahwa dalam penataan tempat duduk siswa tersebut guru tidak hanya menyesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan saja. Tetapi seorang guru perlu mempertimbangkan karakteristik individu siswa, baik dilihat dari aspek kecerdasan, psikologis, dan biologis siswa itu sendiri. Hal ini penting karena guru perlu menyusun atau menata tempat duduk yang dapat memberikan suasana yang nyaman bagi para siswa
1. Pengaturan meja-kursi
Susunan meja-kursi hendaknya memungkinkan siswa-siswa dapat saling berinteraksi dan memberi keluasaan untuk terjadinya mobilitas pergerakan untuk melakukan aktivitas belajar. Meja-kursi juga hendaknya dapat digerakkan, dipindahkan, dan disusun secara fleksibel. Beri keleluasaan siswa mengatur sendiri atau memilih meja-kursinya masing-masing.
2. Pemajangan gambar dan warna
Pemajangan gambar dan pemilihan warna perlu mempertimbangkan saran-saran berikut.
a. Siswa perlu dilibatkan dalam pengadaan dan penataan pajangan-pajangan yang dibutuhkan dalam kelas. Siswa, misalnya, dapat diminta membuat gambar, poster, motto, puisi.
b. Guna menghindari kejenuhan terhadap gambar dan isi poster afirmasi yang sama, guru perlu secara priodik mengganti gambar-gambar atau poster-poster tersebut.
c. Guna mengoptimalkan penataan ruang, maka hasil-hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas. karya-karya terpilih siswa yang dipajang dapat berfungsi sebagai reward dan praise yang dapat memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain.
3. Ventilasi dan pengaturan cahaya
Suhu, ventilasi dan penerangan (kendati pun guru sulit mengatur karena sudah ada) adalah aset penting untuk terciptamya suasana belajar yang nyaman. Oleh karena itu, ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa.
4. Pengaturan penyimpanan barang-barang
Barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai kalau segera diperlukan dan akan dipergunakan bagi kepentingan belajar. Barang-barang yang karena nilai praktisnya tinggi dan dapat disimpan di ruang kelas seperti buku pelajaran, pedoman kurikulum, kartu pribadi dan sebagainya, hendaknya ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu gerak kegiatan siswa.
C. KONDISI YANG
MEMPENGARUHIU IKLIM BELAJAR
Lingkungan sistem pembelajaran meliputi berbagai hal
yang dapat memperlancar proses belajar mengajar dikelas seperti: Kompetensi dan
kreativitas guru dalam mengembangkan materi pembelajaran, penggunaan metode dan
strategi belajar yang bervariasi, pengaturan waktu dalam proses belajar
mengajar dan pengunaan media dan sumber pembelajaran yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran serta penentuan evaluasi untuk mengukur hasil belajar siswa.
Keselurahan aspek yang dijelaskan di atas didesain sedemikian rupa dalam proses
pembelajaran.
Yang
menjadi penekanan dalam penciptaan atmosfir belajar yang kondusif adalah
penciptaan suasana pembelajaran yaitu :
1.
Menyenangkan dan mengasyikkan
Menyenangkan dan mengasyikkan terkait dengan aspek
afektif perasaan. Guru harus berani mengubah iklim dari suka ke bisa. Guru
hendaknya dapat mengundang dan mencelupkan siswa pada suatu kondisi
pembelajaran yang disukai dan menantang siswa untuk berkreasi secara aktif.
Rancangan pembelajaran terpadu dengan materi pembelajaran yang kontekstual
harus dikembangkan secara terus menerus dengan baik oleh guru. Untuk keperluan
itu guru-guru dilatih:
a.
Bersikap ramah
b.
Membiasakan diri selalu tersenyum
c.
Berkomunikasi dengan santun dan patut
d.
Adil terhadap semua siswa
e.
Senantiasa sabar menghadapi berbagai ulah dan perilaku
siswanya.
f. Menciptakan kegiatan belajar yang kreatif melalui
tema-tema yang menarik yang dekat dengan
kehidupan siswa.
2.
Mencerdaskan dan menguatkan
Mencerdaskan bukan hanya terkait dengan aspek
kognitif, melainkan juga dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligence).
Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana guru dapat mengalirkan pendidikan
normatif ke dalam mata pelajaran sehingga menjadi adaptif dalam keseharian
anak. Inilah yang merupakan tujuan utama dari fundamen pendidikan kecakapan
hidup (life skill).
Beberapa
praktik penciptaan atmosfir belajar yang baik (good practice) dikemukakan
berikut ini.
a.
Sebelum memulai pelajaran, dengan sikap yang ramah dan
penuh senyuman guru menyapa beberapa orang siswa dan menanyakan mengenai keadaan
dan kesiapan masing-masing siswa untuk belajar. Bahkan ada guru yang membuka
pelajaran diawali dengan nyanyian pendek dan selanjutnya menugaskan seseorang
siswa melanjutkan lagu tersebut.
b.
Di awal pelajaran, guru membiasakan siswa untuk berdoa
secara bersama agar Tuhan senantiasa memberikan kesehatan dan kemudahan dalam
memahami pelajaran. Selanjutnya, guru juga tidak lupa memberikan
pencerahan-pencerahan rohani kepada para siswa agar mereka senantiasa saling
menghormati dan menghargai, kejujuran dan tanggung jawab bagi setiap tugas yang
diberikan.
c.
Selama proses pembelajaran berlangsung, guru
senantiasa mengembangkan bentuk komunikasi yang efektif, agar siswa dapat
bertanya atau mengemukakan pendapat dalam suasana yang menyenangkan dan merasa
tidak tertekan, tidak takut atau merasa bersalah.
DAFTAR RUJUKAN
Slameto. (2010). Belajar
Dan Factor-Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka
Cipta.
Winarno Surakhmad. (1982). Pengantar Interaksi Mengajar Dasar dan Tehnik
Metodologi Pengajaran edisi IV. Bandung: Tarsito.
Cipta.
Winarno Surakhmad. (1982). Pengantar Interaksi Mengajar Dasar dan Tehnik
Metodologi Pengajaran edisi IV. Bandung: Tarsito.
Aunurrahman.
2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Penerbit AlfabetaSlameto
Syah,
Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Bagus sekali materinya, semoga bermanfaat 👍
BalasHapusMaterinya sangat membantu dan bermanfaat skali
BalasHapusTrimakasih telah berbagi informasi, materi ini sangat bermanfaat bagi saya
BalasHapus