tugas 5 komponen-komponen manajemen kelas.
Komponen- komponen keterampilan manajemen kelas
A. Pengertian komponen keterampilan manejemen kelas.
Menurut (Majid, 2014)
pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara
kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya jika terjadi gangguan dalam
proses belajar mengajar.Menurut (Mulyasa, 2013) pengelolaan kelas merupakan keterampilan
guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya
jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.
Pengelolaan kelas merupakan
keterampilan guru dalam menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal
serta guru mampu mengembalikannya bila terjadi masalah dan gangguan dalam
proses belajar mengajar. Dalam artian, kegiatan-kegiatan untuk memelihara
kondisi belajar yang optimal dan mempertahankan kondisi belajar apabila terjadi
suatu gangguan dan masalah ketika proses belajar mengajar berlangsung. Adapun
yang termasuk ke dalam hal ini, seperti halnya penghentian tingkah laku siswa
yang menyelewengkan perhatian kelas, memberikan ganjaran bagi siswa yang tidak
menepati waktu yang telah disepakati.
Menurut Suharismi Arikunto, manajemen
kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar
mengajar atau membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga
dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.
B. Macam-macam komponen
manajemen kelas
Keterampilan
yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang
optimal (bersifat prevetif).
Keterampilan ini berhubungan dengan kompetensi guru
dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta aktivitas-aktivitas
yang berkaitan dengan keterampilan sebagai berikut:
a) Sikap
tanggap
Seorang guru memperlihatkan sikap positif terhadap
setiap perilaku yang muncul pada siswa dan memberikan tanggapan-tanggapanatas
perilaku tersebut dengan maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan
tertekan dan memunculkan perilaku susulan yang kurang baik. Komponen ini
ditunjukan oleh tingkah laku guru bahwa ia hadir berasama mereka. Guru tahu
kegiatan mereka, tahu ada perhatian atau tidak ada perhatian, tahu yang mereka
kerjakan. Seolah-olah mata guru ada di belakang kepala, sehingga guru dapat
menegur anak didik walaupun guru sedang menulis di papan tulis. Sikap ini
dapat dilakukan dengan cara:
a. Memandang
secara seksama
Memandang secara seksama dapat mengundang dan
melibatkan anak didik kontak pandang dalam pendekatan guru untuk
bercakap-cakap, bekerja sama dan menunjukan rasa persahabatan.
b. Gerak
mendekati
Gerak mendekati hendaklah dilakukan secara wajar bukan
menakut-nakuti, mengancam atau memberikan kritikan-kritikan kelompok kecil dan
individu ditandai dengan kesiagaan, minat dan perhatian guru terhadap aktivitas
siswa serta tugas guru.
c. Memberi
pernyataan
Pernyataan guru terhadap sesuatu yang dikemukakan oleh
siswa sangat diperlukan, baik berupa tanggapan, komentar, dan lain-lain. Akan
tetapi harus dihindari hal-hal yang menunjukkan dominasi guru, seperti komentar
atau pernyataan yang mengandung ancaman.
d. Memberi reaksi
terhadap gangguan dan ketakacuhan
Kelas tidak selamanya tenang. Pasti ada gangguan. Hal
ini perlu guru sadari dan jangan dibiarkan. Teguran guru merupakan tanda bahwa
guru ada bersama anak didik. Teguran haruslah diberikan pada saat yang tepat
dan sasaran yang tepat pula, sehingga dapat mencegah meluasnya penyimpangan
tingkah laku.
b. Membagi perhatian
Kelas diisi oleh
sejumlah orang (siswa) yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang
berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan pertolongan dari guru.
perhatian guru tidak hanya terfokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu
yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merata
kepada setiap anak yang ada di dalam kelas juga harus mampu membagi
perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama
agar pengelolaan kelas menjadi efektif. Membagi perhatian dapat
dilakukan dengan cara:
1.
Visual
Guru dapat mengubah
pandangannya dalam memperhatikan kegiatan pertama sedemikian rupa sehingga ia
dapat melirik kegiatan kedua, tanpa kehilangan perhatian pada kegiatan pertama.
Kontak pandang ini bisa dilakukan terhadap kelompok anak didik atau anak didik
secara individual.
2.
Verbal
Guru dapat memberi
komentar, penjelasan, pertanyaan dan sebagainya terhadap aktivitas anak didik
pertama sementara ia memimpin dan terlibat supervisi pada aktivitas anak didik
yang lain.
c.
Pemusatan Perhatian
Kelompok, dapat dilakukan dengan cara :
11. Memberi tanda, dengan cara menciptakan atau membuat
situasi tentang suatu objek sebelum diperkenalkan kepada siswa.
2. Pengarahan dan Petunjuk yang jelas.
Penghentian, guru dapat menanggulangi terhadap anak didik
yang nyata-nyata melanggar dan mengganggu untuk aktif dalam kegiatan di kelas.
C. Permasalahan Dalam
komponen manajemen kelas.
Menurut lalu Muhammad Azhar (1993:90)
Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas yakni yang bersifat perorangan dan yang
bersifat kelompok.
1. Masalah Perorangan
Jika seorang (individu) gagal
mengembangkan rasa memiliki dan rasa harga dirinya maka ia akan bertingkah laku
menyimpang. Penyimpangan yang biasanya terjadi di kelas ada 4 macam yakni
mencari kekuasaan, menuntut balas, menarik perhatian dan memperlihatkan
ketidakmampuan. Teknik sederhana untuk mengenali adanya masalah-masalah
perorangan adalah sebagai berikut.
a. Jika Guru merasa terganggu atau bosan dengan tingkah
laku seseorang siswa, pertanda siswa tersebut mengalami masalah ‘mencari
perhatian.
b. Jika guru merasa terancam atau merasa dikalahkan,
merupakan pertanda bahwa siswa yang bersangkutan mengalami masalah 'mencari
kekuasaan.
c. Jika guru merasa disakiti (bahkan amat disakiti),
merupakan pertanda bahwa siswa yang bersangkutan mengalami masalah ‘menuntut
balas'.
d. Jika guru merasa telah 'tidak mampu menolong lagi,'
pertanda bahwa siswa yang bersangkutan mengalami masalah
"ketidakmampuan".
2. Masalah Kelompok.
Ada 7 masalah
kelompok dalam hubungannya dengan pengelolaan kelas, yakni:
a. Kekurang kompakan; yang ditandai dengan adanya konflik
antara anggota kelompok.
b. Kekurang mampuan mengikuti aturan kelompok
c. Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok;
ditandai dengan reaksi/ekspresi kasar terhadap anggota yang tidak diterima
d. Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang
menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong/mendukung timbulnya hal-hal
yang menyimpang dari norma sosial pada umumnya.
e. Ketergangguan kelompok/anggota kelompok atas
kegiatannya hanya karena hal-hal kecil yang sebenarnya tidak berarti, lalu
berhenti melakukan kegiatannya.
f. Ketiadaan semangat, tidak mau bekerja, tingkah laku
agresisif atau protes, baik hal ini secara terbuka ataupun terselubung.
Ketidakmampuan menyesuaikan diri
terhadap lingkungan: yang terjadi apabila kelompok bereaksi tidak wajar apabila
terjadi perubahan baru (misalnya pergantian anggota kelompok, pergantian guru,
dan lain-lain).
Rudolf
Dreikurs dan Pearl Cassel membedakan empat kelompok masalah pengelolaan kelas
individual yang didasarkan asumsi bahwa semua tingkah laku individu merupakan
upaya pencapaian tujuan pemenuhan keputusan untuk diterima kelompok dan
kebutuhan untuk mencapai harga diri. Bila kebutuhan-kebutuhan ini tidak lagi dapat
dipenuhi melalui cara-cara yang lumrah dapat diterima masyarakat, dalam hal ini
masyarakat kelas, maka individu yang bersangkutan akan berusaha mencapainya
dengan cara-cara lain. Dengan perkataan lain dia akan berbuat "tidak
baik". Perbuatan-perbuatan untuk mencapai tujuan dengan cara yang asosial
inilah digolongkan sebagai berikut.
a. Tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian orang
lain (attention getting behaviors). Misalnya membadut di kelas (aktif), atau
dengan berbuat serba lamban sehingga perlu mendapat pertolongan ekstra (pasif)
b. Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan (power
seeking behaviors). Misalnya selalu mendebat atau kehilangan kendali emosional
- marah-marah, menangis (aktif), atau selalu "lupa" pada
aturan-aturan penting di kelas (pasif)
c. Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain
(revenge seeking behaviors), misalnya menyakiti orang lain seperti mengata
ngatai, memukul, menggigit, dan sebagainya (kelompok ini tampaknya kebanyakan
dalam bentuk aktif/pasif),
d. Peragaan ketidakmampuan, yaitu dalam bentuk sama
sekali menolak untuk mencob a melakukan
apa pun karena yakin bahwa hanya kegagalanlah yang menjadi bagiannya.
DAFTAR RUJUKAN
Bahri Djamaraf,
Syaiful dan Zain, Aswar. 2006. Strategi belajar
mengajar. Jakarta : Rhineka Cipta.
Rukmana, Ade dan
Suryana, Asep. Pengelolaan kelas. (
Bandung: Upi Press 2006). Cet. Ke-1.
Majid, Abdul. 2007. Perencanaan pembelajaran mengembangkan
standar kompetinsi guru. Jakarta: Remaja Rosdakarya.
Sangat bermanfaat sekali materinya 😊
BalasHapusSangat memuaskan sekali☺
BalasHapusTrimakasih telah berbagi informasi, materi ini sangat bermanfaat bagi saya
BalasHapus