TUGAS 7 PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN KELAS
PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN KELAS
A. Prinsip Manajemen Kelas
Pengelolaan kelas mengandung pengertian yaitu, proses
pengelolaan kelas untuk menciptakan suasana dan kondisi kelas yang memungkinkan
siswa dapat belajar secara efektif. Sedangkan prinsip dasar pengelolaan kelas
adalah pegangan atau acuan yang dimiliki sebagai pokok dasar berfikir atau
bertindak bagi seorang pendidik dalam usaha menciptakan dan memelihara kondisi
belajar yang optimal serta mengembalikan kondisinya bila terjadi gangguan dalam
proses pembelajaran. Tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak dapat
bekerja dengan tertib sehingga tercapai tujuan pengajaran yang efektif.
Setidaknya ada enam prinsip yang harus dipahami oleh guru dalam pelaksanaan
kegiatan manajemen kelas yang efektif, yaitu sebagai berikut:
1.
Hangat dan antusias
Guru sebagai seorang manajer kelas
dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar hendaknya harus dapat memunculkan
dua tahap, yaitu sikap hangat dan antusias. Guru yang bersikap hangat dan
antusias idak hanya disenangi oleh peserta didik, melainkan pula akan menjadi
guru yang tidak akan pernah terlupakan bagi mereka (unforgetable teacher).
Sikap hangat akan sangat mungkin dimunculkan apabila seorang guru mau dan mampu
menjalin ikatan emosional dengan peserta didik. ada beberapa cara yang dapat
dilakukan oleh guru untuk membangn ikatan emosional antara guru dengan peserta
didik, antara lain sebagai berikut:
a) Tidak segan untuk menyapa peserta didik terlebih
dahulu
b) Membiasakan diri untuk berjabat tangan dengan
peserta didik
c) Membuka komunikasi dengan peserta didik
d) Memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang
sederajat
2. Tantangan
Kemampuan guru untuk memberikan
tantangan kepada peserta didiknya dapat menngkatkan semangat belajar mereka
sehingga mereka sehingga hal itu dapat mengurangi kemungkinan munculnya
perilaku yang menyimpang. Dalam hal ini dibutuhkan kecakapan dari seorang guru
sebagai manajer kelas agar dapat mengemas mata pelajaran yang diajarkan supaya
dapat memunculkan perasaan tertantang pada diri peserta didik. Berikut ini
beberapa kegiatan yang dapat dilakukan oleh guru dalam memberikan tantangan
kepada peserta didik:
a. Melakukan evaluasi sederhana
secara berkala setiap minggu
b. Mengaitkan
materi pelajaran dengan berbagai fakta di lapangan
c. Mengajarkan
keterampilan hidup dalam kegiatan belajar keada peserta didik
3
Bervariasi
Dalam kegiatan belajar-mengajar di
kels, variasi gaya mengajar guru sangatlah dibutuhkan karena dapat menghindari
kejenuhan dan kebosanan. Jika peserta didik sudah jenuh dan bosan, dapat
dipastikan jalannya transformasi pengetahuan dan transformasi nilai tidak dapat
dierima secara maksimal jadi, seorang guru harus menguasai variasi gaya
mengajar. Tujuan dari variasi gaya mengajar antara lain:
a.
Untuk menarik dan meningkatkan perhatian peserta didik
terhadap materi pelajaran;
b. Memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk mengembngkan bakat dan minatnya
terhadap mata pelajaran yang diajarkan;
c. Menanamkan
perilaku yang positif pada peserta didik dalam kegiatan belajar-mengajar;
d. Memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuannya.
4. Keluwesan
Keluwesan berasal luwes. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, luwes diartikan sebagai sesuatu yang pantas, menarik,
tiak kaku, tidak canggung, dan mudah menyesuaikan. Sementara keluwesan adalah
perbuatan yang luwes. Keluwesan dalam konteks manajemen kelas merupakan
keluwesan perlaku guru untuk mengubah metode mengajar sesuai dengan kebutuhan
peserta didik dan kondisi kelas untuk menecegah kemungkinan munculnya gangguan
belajar pada peserta didik serta untuk menciptakan iklim belajar mengajar yang
kondusif dan efektif.
5. Penekanan pada
hal-hal yang positif
Pada dasarnya mengajar dan mendidik
menekankan pada hal-al yang positif dan menghindari pemusatan peserta didik
pada hal-hal yang negatif. Penekanan pada hal yang positif, yaitu penekanan
yang dilakukan oleh guru terhadap perilaku peserta didik yang positif.
Penekanan tersebut daat dilakukan oleh guru dengan memberikan penguatan yang
positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu
jalannya kegiatan belajar-mengajar.
Komentar-komentar yang positif dapat
diberikan oleh guru kepada peserta didik yang berperilaku positif. Banyak
peserta didik yang merasa percaya diri akan performa dan kemampuan mereka
dengan komentar tersebut. Itulah guru harus menghindari penggunaan komentar
yang negatif. Guru harus selektif dalam menggunakan kata-kata dan berbicara
dengan peserta didik di dalam kelas.
6. Penanaman disiplin
diri
Tujuan akhir dari kegitan manajemen
kelas adalah menjadikan peserta didik dapat mengembangkan disiplin pada diri
sendiri sehingga tercipta iklim belajar yang kondusif di dalam kelas. Itulah
sebabnya guru diharapkan dapat memotivasi peserta didiknya untuk melaksanakan
disiplin diri dan menjadi teladan dalam pengendalian diri serta pelaksanaan
tanggung jawab. Secara etimologi, kata disiplin berasal dari bahasa Latin,
yaitu disciplina dan discipulus yang berari perintah dan peserta didik. jadi,
disiplin adalah perintah yang diberikan oleh guru kepada peserta didiknya.
Perintah tersebut diberikan kepada peserta didik agar ia mau melakukan apa yang
diinginkan oleh guru.
Kemudian dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, disiplin diartikan dengan tata tertib, ketaatan dan bidang studi.
Tata tertib merupakan peraturan yang harus ditaati. Jika ada yang tidak
menaati, si pelanggar akan mendapat hukuman. Inilah sebabnya pada umumnya orang
seing mengaitkan antara disiplin dengan peraturan hukuman.
Oleh karena itu, mendidik peserta
didik du/ disiplin harus dilakukan sepanjang waktu. Salah satu metode yang
efektif adalah dengan menggunakan metode keteladanan. Guru harus bisa menjadi
model bagi peserta didiknya dengan memberikan contoh perilaku yang positif,
baik di kelas, di sekolah, maupun di lingkungan masyarakat. Misalnya, guru
datang 30 ke kelas tepat waktu, guru berpakaian sopan, berbicara dengan bahasa
yang santun, dan lain sebagainya.
B.
Permasalahan Dalam Prinsip
Manajemen Kelas
1. Masalah Individual
Penggolongan masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa
tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan.Setiap individu
memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika
seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga
maka dia akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah
laku, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain,mencari kekuasaan,
menuntut balas dan memperlihatkan ketidakmampuan.Keempat tingkah laku ini
diurutkan makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik
perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
2. Masalah Kelompok
Ada tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
Kurangnya kekompakan : Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok.Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
Kesulitan mengikuti peraturan kelompok : Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok.Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok : Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok.Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.
Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang :Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya.
Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu dalam kelancaran kegiatannya.
Kurangnya semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes. Masalah kelompok yang paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka maupun terselubung.
Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan.Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain.
2. Masalah Kelompok
Ada tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
Kurangnya kekompakan : Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok.Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
Kesulitan mengikuti peraturan kelompok : Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok.Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok : Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok.Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.
Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang :Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya.
Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu dalam kelancaran kegiatannya.
Kurangnya semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes. Masalah kelompok yang paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka maupun terselubung.
Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan.Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain.
C.
Kebijakan tentang prinsip manajemen
kelas
Untuk mengatasi masalah dalam pengelolaan kelas di atas, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan,diantaranya sebagai berikut:
Behavior – Modification Approach (Behaviorism Apparoach) : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar.Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Namun demikian, dalam penggunaan reinforcement negatif seyogyanya dilakukan secara hati-hati, karena jika tidak tepat malah hanya akan menimbulkan masalah baru.
Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach) : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik – guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik.
Group Process Approach : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. Richard A. Schmuck & Patricia A. Schmuck mengemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses, yaitu :
Untuk mengatasi masalah dalam pengelolaan kelas di atas, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan,diantaranya sebagai berikut:
Behavior – Modification Approach (Behaviorism Apparoach) : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar.Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Namun demikian, dalam penggunaan reinforcement negatif seyogyanya dilakukan secara hati-hati, karena jika tidak tepat malah hanya akan menimbulkan masalah baru.
Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach) : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik – guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik.
Group Process Approach : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. Richard A. Schmuck & Patricia A. Schmuck mengemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses, yaitu :
(a) mutual expectations
(b)
leadership
(c) attraction (pola persahabatan)
(d)communication
Pendekatan Otoriter : Pandangan yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk nienciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa ke arah disiplin.
Pendekatan Permisif : Pendekatan yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan pengajar yang memaksimalkan kebebasan peserta didik untuk melakukan sesuatu.Sehingga bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat perkembangan peserta didik. Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada diri peserta didik.
Pendekatan membiarkan dan memberi kebebasan : Sekali lagi pengajar memandang peserta didik telah mampu melakukan sesuatu dengan prosedur yang benar.“Biarlah mereka bekerja sendiri dengan bebas”, demikian pegangan pengajar dalam mengelola kelas.
Pendekatan Otoriter : Pandangan yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk nienciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa ke arah disiplin.
Pendekatan Permisif : Pendekatan yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan pengajar yang memaksimalkan kebebasan peserta didik untuk melakukan sesuatu.Sehingga bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat perkembangan peserta didik. Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada diri peserta didik.
Pendekatan membiarkan dan memberi kebebasan : Sekali lagi pengajar memandang peserta didik telah mampu melakukan sesuatu dengan prosedur yang benar.“Biarlah mereka bekerja sendiri dengan bebas”, demikian pegangan pengajar dalam mengelola kelas.
DAFTAR RUJUKAN
Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, Jakarta
: PT Rineka Cipta,
1990
Syaiful
Bahri dan Aswan Zain, 2006, Strategi Belajar Mengajar,Jakarta: PT Rineka
Mulyasa,
2005, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT Rosda Karya.
Sangat membantu sekali materinya 👍
BalasHapusMaterinya bagus
BalasHapusTrimakasih telah berbagi informasi, materi ini sangat bermanfaat bagi saya
BalasHapus